sebuah surat pembaca yg saya kutip dari kompas cyber media (08/05/2007).
Preman di Bintaro Jaya
Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau daerah Bintaro Jaya sangat terkenal dengan banyaknya preman berkedok kuli lepas. Keberadaan mereka terlihat jelas terutama di daerah Puri Bintaro sektor 9. Berkali-kali kejadian menimpa saya, dan keluarga yang kebetulan membeli/membangun/mengontrak rumah di daerah Bintaro. Para kuli/preman mencegat truk-truk angkutan yang masuk, untuk kemudian berpura-pura bekerja membongkar muatan truk, tapi buntutnya mereka meminta ongkos.
Padahal kami tidak pernah meminta mereka untuk mengerjakannya, karena kami sudah membayar tenaga/kontraktor sendiri.Kalau tidak diberi, mereka mengancam akan mencegat dan melarang masuk truk-truk yang masuk buat proyek kami. Atau akan mempersulit supir truk yang bertugas saat itu (menyakiti atau meminta dengan paksa).
Para kuli ini memberikan pilihan, mau bayar tiap bulan (sekitar 500.000 rupiah) sampai proyek selesai, atau mau bayar setiap truk masuk (biasanya dihitung permeter muatan kalau keramik, pasir, dll, atau perbiji kalau itu batu), atau mau dibayar lumpsum di depan (sekitar 2 jutaan) sebelum proyek jalan dan mereka tidak akan mengganggu gugat proyek kami sampai selesai.
Parahnya, pihak Jaya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan kuli/preman, warga kehilangan kendaraan saja pihak Jaya mengembalikan kasusnya ke Polsek dan warga dengan alasan keamanan di daerah Bintaro Jaya sudah menjadi tanggungan warga.Jadi kemana, kami, para warga Bintaro mengusut hal ini? Mohon pihak berwajib tidak hanya menertibkan premanisme di daerah yang dilalui pejabat saja.
Maria Yusri (yusriulfa@yahoo.com)
Taman Puri Bintaro
my comments :
hmm… ini memang penyakit kronis di banyak komplek perumahan di daerah selatan jakarta (bintaro sampe serpong). mungkin bisa jadi penyebabnya adalah kesenjangan sosial/gap antara masyarakat di sekitar komplek terhadap masyarakat didalam komplek. tapi menurut saya justru hal ini sudah melanggar batas-batas privasi dan ketertiban/keamanan masyarakat secara umum. dan oleh karenanya perlu ditertibkan . dan anehnya developer dalam hal ini jaya property sepertinya tutup mata (sekalian tutup hidung ama telinga kali) menyaksikan hal-hal seperti ini. yah… kalau memang developer (dalam hal ini jaya property) sudah tidak mampu menangani seharusnya yg berwajib juga tidak tinggal diam. tp yg ada malah jadi semacam simbiosis mutualisme.. karna ada beberapa info yg menyatakan kalo mo pindahan/renov/masukin bahan bangunan di bintaro kudu pake truk marinir atau truk kodam (something like that lah..) tp ujung-ujung nya bayar ke aparat juga… wah jadinya ribet deh. sejenak saya terpikir apa ‘Petrus’ zaman Orba perlu dihidupkan lagi ngga ya utk melibas preman-preman seperti ini???
referensi lain : http://bicararumah.wordpress.com
sufehmi said,
May 28, 2007 at 3:23 am
Cluster kami (permata 2) juga punya masalah yang sama. Lalu ada ibu-ibu yang nyeletuk, “warga kampung (sekitar cluster) maling semua” (juga sehubungan dengan masalah rampok yang terjadi nyaris setiap bulan). Sialnya, ucapan ini bocor ke warga sekitar cluster.
Sempat jadi lumayan tegang situasi. Untung ada rekan-rekan yang hubungan / silaturahminya baik dengan warga sekitar. Lalu berhasil diadakan acara silaturahmi antara warga cluster dengan warga sekitar.
Disitu kemudian menjadi jelas bahwa warga sekitar ternyata sebetulnya malu dengan kelakuan para preman-preman tadi (dan juga berbagai ; tapi mereka juga tidak berdaya menghentikan mereka.
Setelah jelas, maka kemudian warga cluster jadi bisa memfokuskan effort nya ke beberapa preman tadi saja (dan tidak ke SELURUH warga sekitar). Seingat saya, yang terakhir saya tahu ada ide untuk memanggil aparat, dengan biaya patungan warga cluster, untuk menghabisi semua preman sekitar.
Sepertinya sih belum jadi dilakukan, tapi preman sudah mulai hilang. Keder duluan sepertinya
Inti cerita ?
1. Kalau kita bersatu, masalah apa pun bisa diselesaikan.
2. Jaga silaturahmi dengan semua pihak. Jangan sampai silaturahmi antar sesama warga cluster hilang. Atau, yang lebih parah, warga cluster merasa sombong & superior terhadap warga sekitar (waduh… gak jaman lagi euy)
Hope it helps.
osinaga said,
May 28, 2007 at 6:23 am
setuju mas. mungkin salah satu wujud nyata silaturahmi itu juga adalah dengan merekrut warga kampung sekitar cluster menjadi satpam komplek/cluster. sedikit banyak metode ini pasti akan meminimalisir niat/usaha negatif dari warga sekitar. semacam win-win solution lah.. karna setidaknya mereka juga akan merasa memiliki / dihargai di cluster ybs.
soal silaturahmi justru kadang silaturahmi internal inilah yg agak susah diwujudkan mas.. terkadang karna kesibukan masing2 waktu utk sosialisasi itu nyaris tidak pernah ada.. palingan ketemu tetangga kiri-kanan atau depan (sebelum & setelah jam kerja). sabtu-minggu rata2 semua pasti ada acara sendiri2.. jadinya begitu tuh.. begitu ada kejadian apa2 sepertinya sungkan/segan utk ikut campur krn belom kenal baik.
jadi intinya bagaimana mewujudkan kemauan utk kebersamaan – bersatu kita teguh bercerai kita runtuh..halah… he.he.h.e.
sufehmi said,
May 29, 2007 at 6:42 am
Rekrutmen satpam – itu bisa juga, walaupun belum tentu akan selalu efektif. Di kasus kami, satpamnya pada seperti tutup mata. Preman tetap bisa menongkrongi gerbang masuk dan melompat ke truk-truk bangunan yang masuk komplek. Rumah-rumah tetap dibobol maling. Dst.
Akhirnya kita bersikap tegas, termasuk ancaman pemecatan jika ada rumah yang dibobol maling lagi. Namun agar adil, kami juga lengkapi fasilitas mereka – sepeda untuk berpatroli dengan mudah dan cepat, dan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk operasional mereka.
Alhamdulillah sejauh ini belum ada kasus lagi. (fingers crossed !
)
Soal silaturahmi, memang males yaa… saya juga, weekend bawaannya kalau gak istirahat, ya mau main saja sama anak2. Males euy mau basa-basi sama tetangga.
Lalu ada beberapa kawan yang punya ide kreatif.
Untuk para bapak-bapak, diadakan acara tenis bersama. Untuk ibu-ibu, ada acara aerobik bersama.
Wah, seru euy
ini pengakuan istri saya. Saya tidak ikutan main tenis karena tidak bisa tenis, he he (dan kadang weekend saya juga ke tempat client).
Kita jadi ketemu, ngumpul, ada topik pembicaraan, dan badan juga sehat
Kalau dengar cerita istri saya, lucu sekali sampai saya ketawa juga. Ibu-ibunya pada heboh dan kompak, dan sama-sama bersemangat untuk jadi kurus bersama-sama, he he.
Saya bersyukur banget nih bisa tinggal di permata 2 pada saat ini. Moga2 mas Oktavianus bisa menikmati hal yang sama juga.
osinaga said,
May 29, 2007 at 8:12 am
wah ide bagus juga tuh kalo bisa ngadain acara bersama semacam tenis atau aerobik. badan sehat dan silaturahmi terjalin pulak. jadi sekarang dah betah dong ya tinggal di permata bintaro
mudah2an hal ini bisa diterapkan juga di komplek2 lain di bintaro jaya. trimakasih utk info dan sumbang saran nya mas sufehmi.
edratna said,
June 4, 2007 at 5:55 am
Tinggal di Jakarta memang susah-susah gampang. Sempat tinggal di kompleks perumahan (milik kantor), yang awalnya banyak sekali maling…apa aja yang ketinggalan di halaman di embat. Akhirnya Satpam di mixed…ada dari kompleks (Satpam kantor) dan satpam dari luar kompleks. Juga mengandalkan polisi…untung dekat rumah p.Adang, jadi mobil polisi suka nongkrong di depan pos Satpam.
Sekarang tinggal di rumah sendiri, daerahnya enak, tenang…kalau siang sepiii banget. Karena sebagian besar warga, orang pensiunan, atau dua2nya kerja, maka setiap saat pagar harus dalam keadaan terkunci. Tiap hari kira-kira ada 10 pemulung, orang minta sumbangan ini itu…tapi akhirnya kita sepakat, yang diberi sumbangan jika resmi ada edaran dari ketua RT , dan yang mengedarkan Satpam…..Syukurlah anak2 udah mahasiswa, diluar kota pula…coba bayangkan jika anak2 masih kecil, butuh teman main…mosok harus kunci pagar. Syukurlah dulu kami memutuskan tinggal di kompleks, minimal pagar kalau siang tak terkunci, anak-anak bebas bermain dengan anak-anak tetangga kiri kanan.
osinaga said,
June 5, 2007 at 5:44 am
wah asik juga tuh bisa tinggal di rumah dinas. fasilitas lengkap, aman, ekonomis pulak. kalo di tpt saya jatah rumah dinas nya urut kacang bu
apalagi utk yg penempatan di jakarta wah jangan harap deh anak baru bisa dapat rumah dinas
makanya sampai hari ini saya masih nabung buat beli rumah sendiri 
untuk perkembangan anak memang kalau bisa sih lingkungan nya juga mendukung, aman dan tidak terlalu ramai. sehingga kalau pun harus bermain diluar rumah masih relatif aman buat anak2.
Muly De La Vega said,
June 30, 2007 at 6:25 am
Mas, saya memang sudah pernah menyaksikan tayangan Derap Hukum dari SCTV yang mengangkat masalah kuli angkut bergaya preman yang meresahkan. Dua hari lalu, 28 Juni 2007 harian Kompas juga memberitakan kejadian seperti ini lagi.
Bagi saya, warga harus melakukan pembicaraan dengan pengembang mengenai upaya untuk menjadikan para warga asli juga merasa bahwa daerah kompleks dan sekitarnya adalah milik mereka. Kemudian warga, pengembang, serta warga asli harus sering duduk bersama membicarakan masalah-masalah bersama (termasuk keberadaan kuli angkut yang meresahkan ini).
Warga yang diajak bicara sebisa mungkin diupyakan berasal dari pribadi-pribadi yang dianggap merepresentasikan keberadaan warga dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa mereka juga dikenal berakhlak baik. Sehingga, nereka mampu diajak bicara secara bijak dan mencari solusi yang masuk akal.
Seandainya warga atau pengembang ingin merekrut satuan pengaman dari warga asli, pastikanlah bahwa mereka adalah orang-orang yang berdedikasi dengan pekerjaannya serta memiliki tanggung jawab besar.
abu_tsa said,
March 21, 2008 at 11:36 pm
Saya juga punya kaveling di Bintaro Permata Cluster Vania, niat sih mau dibangun masalahnya ada informasi macam-macam tidak aman, banjir mungkin ada yang dapat memberi penjelasan detile
osinaga said,
March 28, 2008 at 6:21 am
@muly:
justru disitulah letak susahnya boz. ketidakpedulian pengembang (ketidakberanian?) dalam memfasilitasi pertemuan itulah yg terkadang membuat masalah menjadi berlarut-larut.
@abu:
ya kondisinya sedikit banyak seperti yg sudah dibahas diatas deh mas.
Mr. Bean said,
March 31, 2008 at 2:36 am
hmm… bossnya preman ngebahas masalah preman… menarik nih…
osinaga said,
April 10, 2008 at 7:38 am
@mr.bean :
Prasetyo said,
August 6, 2008 at 4:51 am
Syukurnya di daerah kami Mahagony Park, lumayan aman. Preman juga ngga ada. Mudah mudahan seperti itu seterusnya. Satu hal yg harus kita bina adalah, silaturahmi antar sesama, terutama dengan security & warga sekitar.
Untuk Info Jika anda membutuhkan bantuan polisi hub SMS Polisi di 1717.
TRIO'S said,
September 26, 2008 at 1:44 am
bicara preman…permata bintaro adalah surganya para preman….jangankan preman yang di luar…satpam yg notabene digaji sama warganya aja sifat dan sikapnya kaya preman. saya nggak tahu cara rekrut mereka…harusnya yg muka2 preman tuh jgn ditaruh disitu…ambil satpam yg menghormati warga.
bagaimana mau aman wong satpamnya aja kaya gitu…kayaknya enakan perumahan yg ada disekitar binjay…yg di bintaro dikontrakin ajalah nunggu biar aman dulu
mydarkoctavarium said,
December 17, 2008 at 1:15 am
setuju dg pak prasetyo, saya juga merasa aman2 saja tuh di mahagoni park. akhir bulan nop kemarin pindahan siang2 juga gak ada ‘preman’ yg buntutin. mungkin efek gebrakan kapolri baru (salute for him!!). sodara saya di sektor 3A sampai pindahan tengah malam utk menhindari preman..
btw, pak prasetyo, apakah ada mailing list para penghuni MP?
hlubis said,
July 30, 2009 at 4:04 pm
Halo semua. Apakah situasinya tetap begitu sampai sekarang? Bagaimana dengan di Taman Puri Bintaro yang katanya dulu gudangnya. Apakah sekarang masih begitu juga?