berikut ini sebuah artikel yg menarik dari kompas. saya tertarik mengulas setelah beberapa waktu yg lalu ngobrol2 dengan salah seorang sahabat yang calon dokter (bulan depan akan wisuda S.Ked)…
pertanyaannya apakah menjadi seorang dokter (spesialis) apakah termasuk kategori investasi jangka panjang ? menurut saya ya, karna bila diumpamakan produk investasi maka menjadi dokter bisa dikategorikan sebagai investasi jangka panjang, dengan maturity profile sekitar 10-15 tahun dan benar-benar memenuhi syarat : high risk high return mengingat waktu yg dibutuhkan utk jadi seorang dokter (spesialis) cukup lama (berkisar 10 – 15 tahun) beserta biaya yg dikeluarkan untuk bisa mencapai gelar dokter (spesialis).
ngomong2 soal waktu maka waktu yg dibutuhkan berkisar sbb :
- S.Ked (sarjana kedokteran) : 4-5 tahun
- Koas : 1-2 tahun
- PTT : 2-3 tahun
- Spesialis : 3-5 tahun
—————————————-
Total : 10-15 tahun
menurut artikel ini bila dihitung secara kasar biaya yang perlu dipersiapkan rata-rata 150-200 juta utk gelar dokter dan 100-200 juta lagi utk gelar dokter spesialis. total jenderal 250-400 juta utk bisa sampai pada gelar dokter spesialis.
nah menurut sepupu saya yg baru lulus S.Ked, begitu praktek sebagai dokter spesialis tentu saja tidak langsung terkenal (laris). awal-awal tahun jadi dokter spesialis masih dalam posisi “mencari” dan butuh sekitar 3-5 tahun untuk sampai pada posisi “dicari” . maksudnya terminologi mencari dan dicari disini adalah mencari/dicari oleh rumah sakit dan / atau pasien.
hitungan kasar investasi yang dikeluarkan bisa sampai 500 juta rupiah utk sampai pada posisi “dicari”. nah dari posisi ini si dokter akan mulai “panen” rupiah selama sekian tahun untuk sampai pada posisi break event point (BEP). sesuai pengalaman (kata sepupu saya) ga butuh waktu lama untuk mencapai BEP ini, tergantung ‘laris tidaknya’ si dokter tadi. bisa 7 tahun, 5 tahun atau bahkan cukup 1 tahun bila dia bekerja di (beberapa) RS kelas internasional plus buka praktek.
hmmm….. dipikir-pikir profesi dokter ini bagus juga yah.. disatu sisi memang butuh biaya besar utk mencapai gelar dokter tsb namun disisi lain return yang diperoleh juga setimpal. disamping tentu saja harus diingat bahwa profesi dokter adalah profesi kemanusiaan/sosial yang semata-mata ga mengejar ROI (return on investment) yang tinggi ..he.he.he.he.
Artikel dari KOMPAS (01 Agustus 2006) :
Investasi Menjadi (Calon) Dokter
Kalau sudah besar, saya ingin menjadi dokter. Jadi dokter bisa membantu menyembuhkan orang lain. Kalimat-kalimat inilah yang kerap terlontar dari bibir-bibir mungil bocah TK dan SD ketika ditanya tentang cita-cita mereka.
Menjadi dokter. Cita-cita yang mulia mengingat profesi ini berperan penting dalam menyelamatkan nyawa manusia. Profesi yang penuh dengan dedikasi berkorban untuk keselamatan orang lain.
Tetapi begitu menginjak bangku kuliah, keinginan mulia ini bisa menjadi sebuah pertanyaan besar bagi para mahasiswa fakultas kedokteran.
Apa mungkin dengan dana ratusan juta rupiah yang sudah dikeluarkan, idealisme menunaikan tugas mulia menyelamatkan jiwa manusia tanpa (terlalu) memedulikan bayaran, bisa diwujudkan?
Simak saja penuturan Yuliana (20) dan Vinka (20), mahasiswi Semester V Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Bagi mereka, kuliah di FK bukanlah bicara prestise semata, tetapi juga bicara investasi yang harus dikeluarkan selama enam tahun hingga meraih embel-embel “dr” di depan nama mereka.
“Untuk biaya kuliah per semester sebenarnya tidak terlalu mahal sama dengan uang kuliah semesteran di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara berkisar Rp 2,5 juta. Tetapi, yang bikin mahal itu uang sumbangan gedungnya bisa mencapai di atas Rp 75 juta,” kata Yuliana.
Menurut Vinka, biaya administrasi kuliah yang bersifat tetap dan wajib itu masih ditambah dengan biaya pembelian buku, fotokopi, dan pembelian peralatan kedokteran milik pribadi saat masuk tahap praktik di klinik.
Dalam perhitungan mereka, rata-rata setiap semester mereka mesti mengeluarkan uang minimal Rp 300.000 untuk biaya fotokopi diktat kuliah.
Fotokopi diktat kuliah tersebut sudah umum terjadi di kalangan mahasiswa FK, sebagai salah satu siasat menekan anggaran “uang buku” yang bisa mencapai angka jutaan rupiah bila mereka membeli semua buku teks kedokteran asli terbitan luar negeri itu.
Kendati sudah bersiasat menekan uang buku, toh masih ada sejumlah buku penting dan wajib dimiliki mahasiswa FK, seperti buku anatomi terbitan luar negeri yang harganya mencapai Rp 1 juta.
“Sebenarnya agak susah kalau kami hanya mengandalkan pinjam buku anatomi dari senior, sebab hampir setiap tahun buku anatomi itu senantiasa direvisi terbitannya. Sementara buku terjemahan kedokteran Indonesia juga jarang yang diperbaharui untuk perkembangan ilmu kedokterannya,” kata Yuliana.
Bagi Vinka dan Yuliana, jika semua biaya administrasi kuliah plus biaya lain-lain itu ditotal bisa mencapai angka lebih dari Rp 150 juta untuk meraih embel-embel dr.
Angka itu didasarkan pada asumsi masa kuliah di FK dan klinik berjalan normal dan lancar, yakni enam tahun.
Pernyataan Yuliana dan Vinka itu diiyakan oleh Mega (21), mahasiswi Semester VII FK Universitas Indonesia.
Bagi Mega, profesi dokter dengan segala image berlimpah uang itu merupakan profesi yang baru bisa dinikmati hasilnya setelah 10 tahun, terhitung mulai masuk kuliah hingga memperoleh surat izin praktik dokter.
“Saya sadar profesi dokter ini memang profesi yang menjanjikan untuk jangka waktu di atas 10 tahun. Sebab, pada tahun-tahun pertama menjadi dokter masih harus mengikuti tahapan pegawai tidak tetap (PTT) dan jika ingin menjadi dokter spesialis perlu ikut program pendidikan dokter spesialis (PPDS) lagi,” ujar Mega.
Sebagai mahasiswi FK universitas negeri, Mega mengakui biaya kuliahnya tidak semahal teman-temannya di universitas swasta.
Untuk kuliah FK di UI, orangtua Mega mengeluarkan biaya uang kuliah Rp 1,5 juta per semester. Tetapi untuk anggaran buku, fotokopi, dan bahan-bahan penunjang lainnya setiap semester Mega bisa mengeluarkan uang Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.
Dalam situasi persaingan yang ketat seperti saat ini, lulusan dokter dari universitas negeri memang menghadapi tantangan persaingan yang besar.
Tak jarang, kata Mega, agar tidak terlalu lama antre dokter PTT, sejumlah dokter rela mengeluarkan uang lebih agar segera ditempatkan di daerah yang sesuai dengan keinginannya.
Biaya akan keluar lebih banyak lagi saat menjalani masa PTT, bukan hanya untuk biaya hidup selama bertugas di lokasi PTT, tetapi juga biaya untuk membayar tenaga perawat di lokasi PTT.
“Nggak benar juga kalau dokter selalu dipandang punya uang banyak dan hidup selalu enak. Modal yang dikeluarkan sangat besar dan belum tentu bisa langsung menikmati hasilnya begitu meraih gelar dokter. Pokoknya beda banget dengan sarjana non-FK lainnya yang bisa langsung kerja setelah lulus kuliah,” tutur Mega.
Mahalnya biaya pendidikan di FK juga tidak dipungkiri Maria (27), seorang dokter yang sedang menjalani masa PPDS di UI. Untuk meraih gelar dokter spesialis penyakit dalam, Maria mengaku setiap semester mengeluarkan biaya Rp 15 juta. Padahal, masa studi PPDS itu rata-rata empat setengah tahun hingga lima tahun.
Maria mengatakan, biaya administrasi PPDS itu belum seberapa karena belum memasukkan biaya ekstra selama praktik di klinik menangani pasien.
Dari pengakuan Maria, ia dan teman-temannya juga kerap membayari biaya berobat pasien kurang mampu yang mereka tangani.
“Sebagai contoh, ada seorang pasien yang perlu menjalani CT-scan atau pemotretan paru-parunya, pembimbing kami tidak mau tahu bagaimana kami harus bisa mendapatkan hasil laboratorium dari pasien yang bersangkutan. Ujung-ujungnya, kami enggak tega juga kalau harus memungut bayaran dari mereka, ya sudah kami secara sukarela membayari hasil tes laboratorium pasien yang bersangkutan. Bisa sampai ratusan ribu rupiah untuk menebus hasil laboratorium itu, tergantung penyakit yang dideritanya,” kata Maria.
Dalam kalkulasi Maria, sejak ia menjadi mahasiswi FK UI pada 1997 hingga menjalani masa PPDS sampai selesai nantinya dibutuhkan biaya sampai Rp 200 juta lebih. Biaya ini murni hanya untuk biaya administrasi kuliah, buku, dan fotokopi. Belum terhitung biaya transportasi, makan, dan uang “sukarela” selama PPDS.
“Kalau ada orang yang mau kaya, sebaiknya enggak usah jadi dokter saja deh. Biayanya mahal banget dan kembali modalnya juga lama. Dulu, sering dibilang jadi dokter cepat dapat kerja, tetapi yang saya alami malah sebaliknya, untuk dapat surat izin praktik dokter umum saja, susahnya minta ampun,” tutur Maria.
Baik Maria, Mega, Yuliana maupun Vinka mengakui mereka telah memahami risiko menjadi dokter.
Bukan hanya besarnya investasi yang harus dipersiapkan, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap nyawa pasien yang ditangani mereka.
Mereka berharap pemerintah segera memberi perhatian khusus kepada dunia pendidikan kedokteran di Indonesia.
Untuk hal yang paling nyata, pemerintah diharapkan dapat menyediakan buku teks ilmu kedokteran terbitan luar negeri itu dengan harga yang lebih terjangkau kantong mahasiswa.
Pengurangan pajak terhadap buku impor atau bahkan penghapusan pajak terhadap buku impor bisa saja dilakukan.
“Anehnya, saya pernah membeli buku kedokteran berbahasa Inggris terbitan India yang harganya jauh lebih murah daripada buku serupa yang diimpor Indonesia,” kata Maria.
Pemerintah juga perlu menyediakan dana khusus untuk penelitian para pengajar FK maupun dokter lainnya.
Hasil penelitian ini nantinya akan dapat dimanfaatkan ilmunya oleh mahasiswa FK dan juga memberi kontribusi positif dalam menangani problem kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Menurut Maria, jika hasil penelitian kesehatan itu dapat disinergikan dengan industri farmasi dalam negeri, nantinya di Indonesia juga dapat dihasilkan obat-obatan dengan harga yang terjangkau atau mungkin lebih murah dari obat generik.
Maria mencontohkan negara India yang bisa menekan harga obat di negerinya lebih murah dari harga obat internasional.
Sebab hasil penelitian di jurnal kedokteran negara tersebut dapat disinergikan dengan penelitian industri farmasinya dalam mencari bahan baku obat yang berasal dari sumber daya hayati tanah airnya, bukan dari bahan baku impor.
Kendati biaya pendidikan kedokteran mahal, Maria berharap agar para dokter muda di Indonesia tidak menjadikan hal itu sebagai alasan pembenaran dalam mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien yang ditanganinya.
“Profesi dokter bukan profesi murni bisnis kesehatan, tetapi ini profesi yang menuntut kebesaran hati dan pengorbanan untuk menyelamatkan nyawa manusia,” ungkap Maria. ***
Penulis: Ni Komang Arianti

~Mas Kopdang yang Kondang~ said,
July 25, 2007 at 7:54 am
O-mai-gos..
apakah dokter adalah sebuah kolam investasi, selayaknya SBI, reksa dana dan obligasi?
Bukankah dokter adalah pekerjaan mulia?
sepertinya dokter saat ini sulit yang pingin pindah ke desa, seperti cakmoki dan merli..
siapa cak moki? blogger juga..
merli? kakaknya anjar..
jali said,
July 25, 2007 at 9:22 am
Katanya kalo mo jadi dokter mesti pake acara beli mayat segala ya… kayak kata cak Agoes ‘Rocker’ Wedi ….. wah.. kalo mau gratisan … jadi kayak SUMANTO (…pesan sponsor : Apapun makanannya.. TEH BOTOL SOSRO minumannya…)
Terus kaitannya dengan dokter = investasi jangka panjang apa dong..ya… ? hehehe……
edratna said,
July 25, 2007 at 10:19 am
Yang jelas profesi dokter adalah profesi yang dekat dengan kemanusiaan, namun tak semua orang berani menjadi dokter…hihihi..kebayang di rumah sakit malam-malam, di ruang jenazah dll.
Jika pelayanan baik, maka dokter bisa tetap melayani masyarakat sampai umur 70 tahun an…setingkat Prof jika jadi dosen di PT. Bahkan ada dokter tertentu yang pasiennya berjubel, karena dikenal tangan dinginnya dalam menyembuhkan penyakit. Alm ibu mertua, jika ketemu dokter NK segala penyakit jadi hilang…maklum dokternya baiiik banget, ganteng, dan keren…akhirnya saya juga pindah jadi pasien dokter tsb…dan suami juga tertarik sama dokter ini, akibatnya kalau praktek diganti dokter lain, pilih menunggu dokter tsb.
maminya cha-cha said,
July 26, 2007 at 1:04 am
aduh investasinya lama banget yach….tapi banyak juga sich dokter bisnis alias kalo megang pasien malah tambah parah, gara2 tugas utamanya bukan ngobatin tapi jualan obat, pernah gak ngalemin..? anakku pernah sakit flu…obatnya dikasih dokter sampe 2 kresek apotik… masyaallah… apalagi kalo tahu pasiennya dpt jaminan dari tptnya kerja. lagian jaman sekarang banyak pilihan, so gak semua dokter laku loch….jadi mendingan investasi di properti dech, atau investasi di politik (nach loch…!) soalnya aku gak pernah liat politikus yg kere, apalagi rumahku deket komplek DPR Kalibata, aduch…mobilnya keren2, terus nunggunya gak usah 10-15 thn, cukup 1 periode jabat (5 thn) udah bisa investasi jk lebih panjang sp seumur hidup kale….(opini pribadi)
osinaga said,
July 26, 2007 at 8:21 am
@kopdang:
he.he.he. begitulah idealnya pak. namun kenyataan di lapangan seringkali bertolak belakang dengan idealisme tersebut. masih mending dokter lho, utk mengembalikan biaya ‘investasi’ yg telah dikeluarkan selama pendidikan masih bisa dengan cara halal sambil beramal/misi kemanusiaan dengan menyembuhkan pasien.. bandingkan dengan para oknum calon pejabat yg berusaha mengembalikan biaya ‘investasi’ (sogokan ke oknum/parpol) dengan korupsi dana anggaran setelah jadi pejabat…ck.ck.ck… jadi intinya kalau dilihat dari kacatamata investasi, semua jenis pendidikan (termasuk pendidikan dokter) adalah investasi bos…. investasi ‘halal’ utk masa depan
osinaga said,
July 26, 2007 at 8:26 am
@jali :
betul bang.. beli mayat itu sudah termasuk komponen biaya kuliah juga. besarnya bervariasi tergantung kondisi mayatnya. biasanya mahasiswa di PTN lebih beruntung karna bekerjasama dgn RSUD/RSUP sedangkan mahasiswa PTS terkadang harus patungan rame-rame utk beli mayat.
@edratna:
betul bu Enny. selain profesi mahal jadi dokter juga butuh nyali dan mental gede. kan ga lucu jadi dokter tp gitu liat darah / potongan badan langsung muntah2 he.he.he.
ngomong2 soal dokter laris spt yg ibu ceritakan artinya waktu utk jadi dokter yg laris alias bertangan dingin pasti butuh waktu yg tidak sedikit..bisa bertahun-tahun utk bisa terkenal dan dicari para pasien/RS.
osinaga said,
July 26, 2007 at 8:29 am
@maminya cha-cha:
kecuali si pejabat melakukan korupsi / mendapat penghasilan diluar gaji/pendapatan halal nya. nah kalau jadi dokter, tidak cuma 5 tahun tapi seumur hidup kak Rom
makin tua makin digemari dan konsekuensinya makin tua makin makmur
itulah bedanya kak Rom, investasi halal dan tidak halal he.he.he.. jadi pejabat memang bisa kaya mendadak dalam 5 tahun periode jabatan. secara logika / gaji bersih, presiden sekalipun ga bakal kaya2 banget
dr_wita said,
March 20, 2008 at 9:03 am
semua tergantung niat awal masuk jadi dokter itu apa saja, bisa saja karena desakan orang tua, atau desakan prestise. tp satu hal, saran saya jangan jadi dokter karena ingin uang yang banyak. segala usaha dan upaya akan sia-sia selama belasan tahun dan modal uang ratusan juta itu tak akan mendatangkan kebahagian. kalo ingin kaya, knapa tak jadi pengusaha aja, uang 400 juta itu di investasikan saja, dr pada jd dokter sekolah lama dan uangnya tidak sebanyak itu. yg membuat indonesia makin punah ya karena uang, tp cukuplah profesi mulia ini tak usah dirusak dengan kalimat investasi uang.
Hengki said,
May 26, 2008 at 2:26 pm
Rekan-rekan sejawat bagi yang butuh buku impor kedokteran silahkan di
http://tamanmedika.blogspot.com
drh. Hery irawan said,
October 24, 2008 at 2:31 pm
Emh, w sih kul d fkh unair, rencana sich pngen di fk, tp enak mana yaw? Jadi dr ato drh,.? Bingung neh,.thx
haqqul yakin said,
January 15, 2009 at 3:52 pm
Kayaknya, profesi dokter tidak menjanjikan masa depan yang cerah.
Bayangkan, setelah berjuang meraih gelar “dr” selama 6 thn,kemudian PTT.
Gaji PTT daerah terpencil hanya Rp. 1.530.000,-/bulan.Sementara kita tidak bisa mengharapkan banyak tambahan penghasilan dari praktek pribadi di daerah terpencil, karena realitas masyarakat Indonesia di daerah terpencil rata-rata miskin. Jd anggapan masa depan dokter “cerah” masih perlu dipertanyakan.
Dina said,
November 4, 2009 at 10:44 pm
Kalau dipikir-pikir gaji dokter yang diberikan pemerintah belum dan tidak manusiawi…Gaji dokter sama dengan gaji tukang parkir.. Tukang parkir di halaman dinkes atau walikota atau Bank Swasta dengan jam kerja jam 8 sd jam 3 bisa mencapai 250rb per hari…Di kali 20 hari kerja totalnya 5 juta per Bulan… Dokter puskesmas yang mandi keringat melayani 40 an pasien puskesmas cuma dihargai maksimal 2,5 juta. Belum lagi resiko ketularan penyakit, dan hardikan dari keluarga pasien yang tidak sabaran, Yang ingin pelayanan VIP tapi bayar Jamkesmas….PAdahal untuk mencapai dokter ia sudah mengeluarkan ratusan juta…Mohon pada DPR,, Keadilan pada dokter…kalau ingin biaya pengobatan murah jangan korbankan dokter…tapi cari alternatif lain…Dokter juga punya keluarga yang harus dihidupi…
NAngiiiiissss jadi dokter di Negara ini…..
Apakah kalian Pemerintah dan regulator kesehatan CUMA DIAMMMM?